Ceramah guru di depan kelas akan dikurangi dan digantikan dengan guru sebagai motivator, inspirator, dan katalisator.

KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bakal menerapkan pembaruan sistem pembelajaran pada tahun ajaran 2017/2018. Pembaruan itu antara lain 8 jam di sekolah dengan penguatan pendidikan karakter.

“Nantinya, waktu siswa di sekolah 8 jam. Meski demikian, saya ingin mata pelajaran justru dikurangi. Misalnya, setiap harinya hanya ada tiga mata pelajaran sehingga dari 8 jam tersebut, 2 jam ialah mata pelajaran, sedangkan 6 jam lainnya ialah berbagai kegiatan penunjang. Pada  akhir pekan atau Sabtu, tidak ada mata pelajaran, hanya kegiatan ekstrakurikuler,” jelas Mendikbud Muhadjir Effendy seusai meluncurkan program Penguatan Pendidikan Karakter tingkat SD di Banyumas, Jawa Tengah, beberapa hari yang lalu.

Dijelaskan Muhadjir, nantinya memang mata pelajaran akan dikurangi baik untuk SD maupun SMP. Para siswa akan lebih banyak mengikuti berbagai kegiatan di luar mata pelajaran, misalnya membaca dan keterampilan. “Untuk siswa SMP, proporsinya ialah 70% pendidikan karakter dan 30% lainnya ialah mata pelajaran biasa. Sementara itu untuk SMP, pendidikan karakternya 60% dan biasa 40%,” katanya.

Dikatakan, cara pengajarannya pun berbeda sebab nantinya lebih menekankan cara belajar siswa aktif (CBSA). “Jadi nantinya guru yang ceramah di dalam kelas harus dikurangi dan digantikan dengan siswa yang aktif. Guru harus membangkitkan kreativitas belajar. Guru sebagai motivatior, inspirator, dan katalisator,’’ ujarnya.

Menurut Mendikbud, pendidikan karakter menjadi prioritas dalam pendidikan dasar sebagai bagian dari revolusi mental. Dalam praktiknya, setiap mata pelajaran harus dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, sedangkan pada akhir mata pelajaran menyanyikan lagu nasional. Kegiatan semacam itu, lanjut Mendikbud, merupakan bagian kecil pembentukan pemimpin. Para siswa harus bergiliran memimpin menyanyi dan berdoa. “Sehingga nantinya bakal lahir para pemimpin bangsa di masa depan,’’ ujarnya. “Saya memprediksi pada 2045 akan panen para pemimpin bangsa yang tahan banting dan mampu bersaing dengan negara lain.”

Referensi: SKH. Media Indonesia, SKH. Suara Pembaruan, SKH. Kompas