KONTEN AJAR
Kejadian di Dalam Otak Ketika Patah Hati & Upaya Mengatasinya

Kasus:

”Sudah 4 bulan terakhir ini, hidup saya berantakan, saya tidak bisa konsentrasi pada pembelajaran, kepikiran dia terus,” demikian keluh seorang peserta didik memulai pembicaraannya.

“Saya memang baru putus dengan pacar saya setelah sekian lama kami bersama. Tidak saya sangka, dia ternyata lebih memilih perempuan pilihan lain. Padahal, awalnya, dia yang aktif menyatakan cintanya kepada saya. Kami sudah cukup serius, bahkan sampai kebayang rencana perkawinan kelak. Hati saya hancur, di awal saya seperti orang kehilangan akal. Baru seminggu kemudian saya sadar dan bisa menangis.

Lanjut dia, ”Cara dia memutuskan hubungan juga hanya melalui Whatsapp, sangat tidak sportif bukan? Saya telah mengajaknya bertemu muka agar masalahnya lebih jelas, tapi sampai sekarang nihil. Apa yang dapat saya lakukan supaya bisa segera pulih dari rasa sakit hati?”

“Rasanya seperti sampah saja, saya dicampakkannya. Saya malu, seperti tidak punya harga diri lagi. Saya juga ragu apakah saya masih sanggup jatuh cinta lagi?”

Yah, kita semua ikut prihatin atas kondisi sedang dialaminya, tentu sangat berat dan butuh waktu memulihkannya. Kondisi ini dapat membuat seseorang seperti menghadapi jalan buntu, terasa tak ada lagi masa depan, sepertinya tak mungkin melanjutkan hidup. Semua perasaan negatif yang muncul pada dirinya adalah reaksi yang wajar/normal, sebaiknya perlu diterima lebih dulu.

Psikolog Guy Winch (2018) mengungkapkan, pemulihan dari patah hati harus dimulai dengan tekad untuk melawan insting kita yang mengidealkan sesuatu dan mencari jawaban yang tidak ada—serta menawarkan cara agar, pada akhirnya, bisa bergerak maju. Hati kita bisa patah, tetapi kita tidak harus putus asa karenanya.

Melalui penelitiannya, Winch mengungkapkan bagaimana dan mengapa patah hati berdampak pada otak dan perilaku kita dengan cara yang dramatis dan tidak terduga, terlepas dari usia kita. Nyeri emosional menurunkan kemampuan kita bernalar, berpikir kreatif, memecahkan masalah, dan berfungsi sebaik mungkin.

Dalam bukunya How to Fix a Broken Heart (2018), ia berfokus pada dua jenis rasa sakit emosional—patah hati romantik (berpacaran) dan patah hati karena hilangnya hewan peliharaan yang disayangi.

Pengalaman-pengalaman ini sama-sama disertai dengan respons kesedihan yang berat, tetapi tidak dianggap sama pentingnya dengan, misalnya, perceraian formal atau kehilangan kerabat dekat.

Akibatnya, pengakuan, dukungan, dan kasih sayang kurang diberikan kepada mereka yang patah hati dalam hubungan pacaran.

Lebih lanjut, Winch membahas berbagai persoalan yang dialami mereka yang patah hati. Perlu diambilkan dua persoalan yang kiranya relevan dengan kondisi tersebut.

Tak bisa menerima

Ketika hubungan telah berakhir tetapi ia masih memikirkannya, membaca kembali tulisan atau pesannya, memandangi foto-foto pada saat yang membahagiakan, ia mungkin mengalami kondisi ketagihan (sakau), mirip dengan pecandu narkoba.

Ketika kita patah hati, otak kita merespons dengan cara yang sama terhadap pencandu yang menarik diri dari obat-obatan kelas A, seperti heroin. Namun, seperti halnya seorang pencandu yang perlu melawan dorongan untuk menggunakan narkoba, mereka yang patah hati perlu berpikir secara rasional dan realistis.

Solusinya, diperlukan kepastian atau pemahaman mengapa putus hubungan itu terjadi sebelum kita dapat beralih dari putus cinta. Disarankan agar menyimak benar-benar ketika mantan memberi tahu Anda mengapa hubungan itu tidak berhasil-atau buatlah sendiri alasan jika tidak ada satu pun yang jelas.

Jika hubungan berakhir tanpa alasan yang jelas, katakan, ”Itu bukan Anda, melainkan saya”, jangan minta mantan Anda membuat suatu alasan. Cukup buat satu alasan dari Anda, misalnya untuk menjaga harga diri Anda, sebutkan bahwa ”Dia punya masalah dengan komitmen”.

Dengan memahami mengapa hubungan itu berakhir, kita membolehkan diri kita menghapus harapan untuk rekonsiliasi dan melangkah maju dengan kehidupan kita.

Takut berkencan lagi

Solusinya, menurut Dr Winch, satu variabel telah ditemukan untuk memprediksi penyesuaian lebih sehat dan lebih cepat untuk patah hati, yaitu justru menemukan pacar baru.

Mungkin terasa salah, tetapi berkencan dengan orang baru dapat meningkatkan harga diri yang rapuh dan mengingatkan kita ”ada banyak ikan lain di laut”. Masih banyak orang lain yang bisa berelasi akrab dengan kita.

Berkencan dan menemukan seseorang yang baru merupakan cara yang sangat mudah agar Anda bergerak maju. Kembali ke kegiatan berkencan akan mengalihkan pikiran Anda dari kesedihan dan memberi kemungkinan menemukan pasangan baru.

Masalahnya adalah kapan waktu yang sesuai dan siap bagi Anda menjalaninya. Patah hati mungkin tampak seperti pengalaman paling kesepian di dunia—tetapi hampir semua orang akan melewatinya.

Tips pemulihan

Penutur cerita dan penyedia konten, Jay Shetty (dalam ceramahnya yang ditayangkan di media sosial, 19 November 2018), memberikan tips memulihkan diri dari kondisi patah hati sebagai berikut:

  1. Menulis jurnal

Tuli dan tumpahkan semua emosi negatif, seperti rasa sedih, marah, nostalgia, dan kesepian Anda, dalam buku catatan hingga Anda mendapatkan pencerahan, ”Oh rupanya ini maksud Tuhan terhadap saya”. Apabila ingin menangis, lakukanlah.

  1. Latihan fisik

Ketimbang hanya menghibur diri dengan menonton film atau makan es krim saja, cobalah berolahraga, terutama di luar ruangan, seperti berlari, berjalan jauh, dan mendaki. Dengan melakukan hal-hal yang bersifat aktif dan energetik, tingkat stres dapat diturunkan.

  1. Menyusun daftar rasa syukur

Supaya tidak terpaku pada pikiran negatif yang makin membesar, Anda perlu mengimbangi dengan memikirkan dan mengingat kembali berbagai peristiwa yang membuat kita bangga, bahagia, puas, dan gembira. Dengan masuknya rasa bersyukur di dalam diri, sumber kekuatan untuk bertahan akan bertambah.

  1. Mengubah jenis musik yang kita dengarkan

Lagu sendu yang berisi ratapan dan kesedihan makin membuat kita terpuruk. Cobalah menggantinya dengan lagu-lagu yang menyemangati, memberi rasa tenang dan menyegarkan sehingga akan mempercepat pemulihan.

  1. Melepaskan masalah yang dialami

Biarkan semua berlalu dan hadapi masa depan. Hal ini dapat dimulai dengan memutus berbagai hubungan dengannya di media sosial, menghapus nomor teleponnya, dan tidak terlibat dalam gosip/pembicaraan tak jelas tentang mantan yang dapat meracuni diri Anda. Kembalilah dalam rutinitas kegiatan sehari-hari tanpa dirinya. Semoga membantu.

Refernsi: AGUSTINE DWIPUTRI.